Senin, 16 Desember 2013

Kebudayaan dan Peradaban

ORANG sering mengacaukan pengertian ”kebudayaan” dan ”peradaban”. Kerancuan ini berpeluang terjadi karena kedua istilah tersebut mewakili konsep yang sama, yaitu sistem nilai yang dihayati manusia dalam berkehidupan manusia, hingga kebiasaan turut memengaruhi penggunaannya.
Jangankan orang awam, para ilmuwan pun kerap tidak membedakan pengertian kedua istilah tadi dan memakai kedua-duanya secara bergantian. Sejarawan Arnold Toynbee, misalnya, memberikan judul karyanya yang monumental,  Civilization on Trial, bukan ”Culture on Trial”. Namun, ketika dalam karyanya ini dia membahas peradaban China, dia jelas menggunakan istilah civilization, meliputi baik ”peradaban” maupun ”budaya”.
Konsep pembudidayaan
Demi memupus kerancuan, para pemikir Jerman pada abad XIX telah mengetengahkan suatu solusi. Walaupun ”kultur” (kebudayaan) dan ”zivilisation” (peradaban) sama-sama menggambarkan perkembangan dan kemajuan manusia, ”budaya” mengacu pada aspek spiritual dari kehidupan manusia, sedangkan ”peradaban” merujuk pada aspek teknologisnya.
Dengan begitu, mereka berkesimpulan: istilah ”budaya” meliputi bahasa, ilmu pengetahuan, agama, pendidikan, dan seni/kiat/keterampilan (arts) sebagai faktor-faktor pengembang pikiran manusia. Sementara ”peradaban” adalah istilah konseptual yang terkait secara integral pada industri, teknologi, ekonomi (dalam artian kegiatan), dan hukum (dalam artian peraturan perundang-undangan), yang dibina untuk mengontrol alam agar memenuhi kebutuhan manusia.
Apabila demikian kita bisa saja menulis ”Sejarah Kebudayaan Nusantara” di samping ”Sejarah Peradaban Nusantara” selama dan sejauh kita membahas aspek-aspek yang berbeda dari kehidupan manusia-manusia di bumi Nusantara ketika itu. Jadi apabila kita menerima distingsi antara istilah kebudayaan dan peradaban, kita anggap masing-masing mewakili pandangan yang berbeda tentang fenomena yang sama, di mana kebudayaan berpembawaan deskriptif, sementara peradaban valuatif.
Asal-usul linguistik dari kedua istilah ini (di Barat) turut membantu pemahaman kita mengenai makna kedua istilah tadi. Culture berakar kata sama dengan cultivation yang berarti ”menumbuhkan” (growing) atau ”pembudidayaan” (cultivation). Sementara civilization berasal dari kata ”civic” dan ”civil” yang berkaitan dengan ”city” (kota) dan ”citizen” dalam arti ”warga kota” dan di tahap selanjutnya ”warga negara” (berhubung ”city-state” berkembang menjadi ”nation-state”).
Kota/negara dan warganya menggambarkan tahap pembudidayaan yang maju atau wujud keberhasilannya. Makhluk hewan survive dengan mematuhi hukum-hukum alam. Hanya manusia yang membudidayakan alam. Maka, pembudidayaan atau budaya menggambarkan hubungan yang spesifik antara manusia dan alam.
Jika demikian, baik manusia primitif maupun modern sama-sama berorientasi budaya, culture oriented. Perbedaan antara masyarakat primitif dan masyarakat modern hanya dalam karakteristik kebudayaannya masing-masing. Kedua masyarakat tersebut dapat dievaluasi melalui ekstensi dan kualitas dari pembudidayaan masing-masing.
Jadi, dari sudut pandang ini, masyarakat human dapat dibedakan satu dengan yang lain. Peradaban adalah suatu pendekatan konsep pembudidayaan, yaitu budaya yang berkembang ke satu tingkat tertentu. Berarti, budaya perlu berkembang atau dengan sadar dikembangkan hingga ke satu tingkat tertentu untuk bisa dikualifikasi sebagai peradaban. Hal ini ditegaskan sekali oleh Park Ynhui, guru besar filosofi dari Pohang University of Science and Technology.
Kongres kebudayaan?
Berhubung sejarah kebudayaan manusia berkembang dari suatu keadaan primitif, sejarah makhluk manusia kiranya perlu dianggap sebagai sejarah dari kebudayaan dan bukan sejarah dari peradaban. Namun, harus diakui bahwa di satu titik pada tahap peralihan perkembangan, kelihatan menonjol sekali nilai-nilai serupa pada kebudayaan dan peradaban yang bisa dan sudah membingungkan tanggapan pemerhati. Nilai adalah ”genus” dari semua ”spesies” yang tercakup dalam pengertian kebudayaan (industri, teknologi, dan lain-lain).
Nilai adalah segala sesuatu yang kita pakai sebagai standar dalam menimbang (judgement) dan/atau yang bernilai itu sendiri (bernilai intrinsik), yang sebagian besar berupa hal yang nirwujud (intangible), seperti ide dan ilmu pengetahuan. Walaupun begitu, ia, pada hakikatnya, bukan merupakan aturan (rules), melainkan iluminasi yang begitu mendalam hingga di bawah sorotan pencerahannya menjadi begitu tajam terpampang batas-batas antara adil dan tak adil, baik dan buruk, alat (means) dan tujuan (ends).
Kongres kebudayaan yang menghabiskan begitu banyak waktu, energi, dan biaya, seharusnya membahas aspek dan faktor penentu dalam perkembangan (nilai) kebudayaan ke arah (nilai) peradaban yang begitu kompleks. Dalam perkembangan itu, sejarah human mengingatkan kita bahwa kebudayaan menjadi nilai-nilai yang masih melekat dalam pikiran (ingatan) dan masih hidup dalam perbuatan, jika yang lain-lain telah dilupakan. Yang dilupakan ini seharusnya hilang bukan karena dibuang di tong sampah atau dikubur dalam-dalam, tetapi karena menyatu dalam nilai/bentuk baru (peradaban), bagai garam yang cair dalam makanan atau local genius luluh dalam kearifan nasional atau fisika klasik lebur dalam fisika modern.
Kompleksitas ini berarti bahwa kongres kebudayaan harus bisa melibatkan sebanyak mungkin pemangku kepentingan yang berasal dari berbagai vokasi, profesi, dan disiplin, bukan hanya pejabat publik yang bertugas sekadar memberikan ”pengarahan/petunjuk”. Berhubung pembahasan ada kalanya bernada kritis, kritik ini pun perlu diketengahkan secara intelektual tanpa bersifat intelektualitas. Intelektual adalah persona yang pembawaannya berdimensi lima: (i) suatu aksi penghayatan vokasional/profesional yang berbobot budaya, (ii) suatu peran sosiopolitis, (iii) suatu kesadaran yang mengacu ke universalitas, (iv) suatu pembangkangan yang bertanggung jawab, dan (v) suatu pancaran nurani yang bersih dan murni.
Hanya dengan berpembawaan intelektual demikian, para peserta kongres kebudayaan bisa kiranya mencegah dirinya tidak menjadi berupa sendok. A spoon does not know the taste of soup, nor a learned fool the taste of wisdom.
Daoed Joesoef  ;  Alumnus Universite Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne
KOMPAS, 22 Oktober 2013

0 komentar:

Posting Komentar

Kebudayaan dan Peradaban

ORANG sering mengacaukan pengertian ”kebudayaan” dan ”peradaban”. Kerancuan ini berpeluang terjadi karena kedua istilah tersebut mewakili konsep yang sama, yaitu sistem nilai yang dihayati manusia dalam berkehidupan manusia, hingga kebiasaan turut memengaruhi penggunaannya.
Jangankan orang awam, para ilmuwan pun kerap tidak membedakan pengertian kedua istilah tadi dan memakai kedua-duanya secara bergantian. Sejarawan Arnold Toynbee, misalnya, memberikan judul karyanya yang monumental,  Civilization on Trial, bukan ”Culture on Trial”. Namun, ketika dalam karyanya ini dia membahas peradaban China, dia jelas menggunakan istilah civilization, meliputi baik ”peradaban” maupun ”budaya”.
Konsep pembudidayaan
Demi memupus kerancuan, para pemikir Jerman pada abad XIX telah mengetengahkan suatu solusi. Walaupun ”kultur” (kebudayaan) dan ”zivilisation” (peradaban) sama-sama menggambarkan perkembangan dan kemajuan manusia, ”budaya” mengacu pada aspek spiritual dari kehidupan manusia, sedangkan ”peradaban” merujuk pada aspek teknologisnya.
Dengan begitu, mereka berkesimpulan: istilah ”budaya” meliputi bahasa, ilmu pengetahuan, agama, pendidikan, dan seni/kiat/keterampilan (arts) sebagai faktor-faktor pengembang pikiran manusia. Sementara ”peradaban” adalah istilah konseptual yang terkait secara integral pada industri, teknologi, ekonomi (dalam artian kegiatan), dan hukum (dalam artian peraturan perundang-undangan), yang dibina untuk mengontrol alam agar memenuhi kebutuhan manusia.
Apabila demikian kita bisa saja menulis ”Sejarah Kebudayaan Nusantara” di samping ”Sejarah Peradaban Nusantara” selama dan sejauh kita membahas aspek-aspek yang berbeda dari kehidupan manusia-manusia di bumi Nusantara ketika itu. Jadi apabila kita menerima distingsi antara istilah kebudayaan dan peradaban, kita anggap masing-masing mewakili pandangan yang berbeda tentang fenomena yang sama, di mana kebudayaan berpembawaan deskriptif, sementara peradaban valuatif.
Asal-usul linguistik dari kedua istilah ini (di Barat) turut membantu pemahaman kita mengenai makna kedua istilah tadi. Culture berakar kata sama dengan cultivation yang berarti ”menumbuhkan” (growing) atau ”pembudidayaan” (cultivation). Sementara civilization berasal dari kata ”civic” dan ”civil” yang berkaitan dengan ”city” (kota) dan ”citizen” dalam arti ”warga kota” dan di tahap selanjutnya ”warga negara” (berhubung ”city-state” berkembang menjadi ”nation-state”).
Kota/negara dan warganya menggambarkan tahap pembudidayaan yang maju atau wujud keberhasilannya. Makhluk hewan survive dengan mematuhi hukum-hukum alam. Hanya manusia yang membudidayakan alam. Maka, pembudidayaan atau budaya menggambarkan hubungan yang spesifik antara manusia dan alam.
Jika demikian, baik manusia primitif maupun modern sama-sama berorientasi budaya, culture oriented. Perbedaan antara masyarakat primitif dan masyarakat modern hanya dalam karakteristik kebudayaannya masing-masing. Kedua masyarakat tersebut dapat dievaluasi melalui ekstensi dan kualitas dari pembudidayaan masing-masing.
Jadi, dari sudut pandang ini, masyarakat human dapat dibedakan satu dengan yang lain. Peradaban adalah suatu pendekatan konsep pembudidayaan, yaitu budaya yang berkembang ke satu tingkat tertentu. Berarti, budaya perlu berkembang atau dengan sadar dikembangkan hingga ke satu tingkat tertentu untuk bisa dikualifikasi sebagai peradaban. Hal ini ditegaskan sekali oleh Park Ynhui, guru besar filosofi dari Pohang University of Science and Technology.
Kongres kebudayaan?
Berhubung sejarah kebudayaan manusia berkembang dari suatu keadaan primitif, sejarah makhluk manusia kiranya perlu dianggap sebagai sejarah dari kebudayaan dan bukan sejarah dari peradaban. Namun, harus diakui bahwa di satu titik pada tahap peralihan perkembangan, kelihatan menonjol sekali nilai-nilai serupa pada kebudayaan dan peradaban yang bisa dan sudah membingungkan tanggapan pemerhati. Nilai adalah ”genus” dari semua ”spesies” yang tercakup dalam pengertian kebudayaan (industri, teknologi, dan lain-lain).
Nilai adalah segala sesuatu yang kita pakai sebagai standar dalam menimbang (judgement) dan/atau yang bernilai itu sendiri (bernilai intrinsik), yang sebagian besar berupa hal yang nirwujud (intangible), seperti ide dan ilmu pengetahuan. Walaupun begitu, ia, pada hakikatnya, bukan merupakan aturan (rules), melainkan iluminasi yang begitu mendalam hingga di bawah sorotan pencerahannya menjadi begitu tajam terpampang batas-batas antara adil dan tak adil, baik dan buruk, alat (means) dan tujuan (ends).
Kongres kebudayaan yang menghabiskan begitu banyak waktu, energi, dan biaya, seharusnya membahas aspek dan faktor penentu dalam perkembangan (nilai) kebudayaan ke arah (nilai) peradaban yang begitu kompleks. Dalam perkembangan itu, sejarah human mengingatkan kita bahwa kebudayaan menjadi nilai-nilai yang masih melekat dalam pikiran (ingatan) dan masih hidup dalam perbuatan, jika yang lain-lain telah dilupakan. Yang dilupakan ini seharusnya hilang bukan karena dibuang di tong sampah atau dikubur dalam-dalam, tetapi karena menyatu dalam nilai/bentuk baru (peradaban), bagai garam yang cair dalam makanan atau local genius luluh dalam kearifan nasional atau fisika klasik lebur dalam fisika modern.
Kompleksitas ini berarti bahwa kongres kebudayaan harus bisa melibatkan sebanyak mungkin pemangku kepentingan yang berasal dari berbagai vokasi, profesi, dan disiplin, bukan hanya pejabat publik yang bertugas sekadar memberikan ”pengarahan/petunjuk”. Berhubung pembahasan ada kalanya bernada kritis, kritik ini pun perlu diketengahkan secara intelektual tanpa bersifat intelektualitas. Intelektual adalah persona yang pembawaannya berdimensi lima: (i) suatu aksi penghayatan vokasional/profesional yang berbobot budaya, (ii) suatu peran sosiopolitis, (iii) suatu kesadaran yang mengacu ke universalitas, (iv) suatu pembangkangan yang bertanggung jawab, dan (v) suatu pancaran nurani yang bersih dan murni.
Hanya dengan berpembawaan intelektual demikian, para peserta kongres kebudayaan bisa kiranya mencegah dirinya tidak menjadi berupa sendok. A spoon does not know the taste of soup, nor a learned fool the taste of wisdom.
Daoed Joesoef  ;  Alumnus Universite Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne
KOMPAS, 22 Oktober 2013

0 komentar:

Posting Komentar